Listen

My New Novel

Showing posts with label Book Review. Show all posts

Review Supernova: Inteligensi Embun Pagi


Pertama saya ingin mengucapkan Proficiat bagi Mbak Dewi ‘Dee’ Lestari.

Akhirnya berhasil menyelesaikan proyek Novel Supernova. 15 tahun bukan waktu yang sekerdipan mata bagi kita yang fana. 15 tahun adalah waktu dimana, jatuh-bangun-bangkit dan bersinar, bagi seorang Dewi Lestari dalam membangun sebuah novel berseri.

Bagi Pembaca-Penulis macam saya, membuat novel trilogi yang bagian keduanya dibelah 4 novel, hal itu merupakan pencapaian luar biasa. Saya setuju dengan Calvin Michel Sidjaja: Tidak banyak, bahkan tidak ada seri novel Indonesia berlatar belakang fiksi ilmiah, fantasy, dan spiritualisme bisa cetak berulang kali dan meledak dipasar. Prestasi besar. Apalagi pembaca Supernova dari tahun 2001 sampai 2016 ini tumbuh terus. Saya yakin di depan akan terus tumbuh.

15 tahun bagi saya juga bukan sekerjapan petir di langit yang melintas saat hujan. 15 tahun saya setia, menanti, menebak-nebak, menciptakan jawaban sendiri atas Plot Supernova di setiap series yang saya baca. Bahkan ada yang bilang saya gila, bikin capek otak aja.

Saya tidak peduli, sebab ketika terbitnya Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh. Itu menjadi salah satu buku—selain Bhagavad Gita, The Artist Way, SQ - Danah Johar, Potrait Of Young Artist - James Joyce, Demian & Siddhartha - Hermann Hesse dan masih banyak lagi—yang memberi saya trigger, ketika saya meneguhkan Spiritualitas saya. Dan saya sama seperti pembaca idealis lainnya, berasal dari Generasi Supernova KPBJ cetakan pertama oleh True Dee Book. Begitu terpukau, orgasme a.k.a ngecrot otaknya saat menamatkan Supernova KPBJ, dan langsung ngefans berat.

Pujian untuk cover Supernova IEP. Sungguh saya suka covernya, cover putih dipenuhi kerlip-kerlip, dengan simbol Heksagonal dan tiga liukan heliks di dalamnya. Warna simbolnya bisa berwarna biru atau kuning atau pelangi kalo digoyang-goyang pelan. Epic-lah covernya. Mewah.

Oke sebelum saya mereview, saya mau bilang bawa Review saya akan Spoiler yah, yaaa... nggak spoiler-spoiler amat sih, pembaca lain sudah banyak yang baca juga. Mungkin ini lebih banyak emm.. protes kali yah, hahay.... Kalo belum baca buku IEP, sok atuh baca dulu. Berhenti sampai disini, jangan lanjut baca review.

Saya sudah memberi peringatan yah.

Ini adalah pembacaan novel Supernova: IEP yang baru sekali saya baca, dengan durasi waktu 24 jam. Dari pukul 14:30 WIB hingga 14:00 WIB keesokannya.

Yuk kita masup *menggosokkan tangan.

Kita Flashback dulu, saya punya tebakan di review Supernova: Gelombang.

Saya menebak Kell adalah Sarvara untuk Bodhi, ternyata saya salah. Kell adalah Infiltrant, tongkat estafet selanjutnya setelah Kalden Sakya bagi Alfa. Banyak tebakan saya meleset, tetapi sisanya—meski dikit—ada yang benar.

Di Gelombang kita diperkenalkan istilah baru Sarvara, Infiltrant, Harbinger/Peretas. Dan masih diberi planting Star yang menyatakan namanya adalah dari Dewi Sumeria saat bertemu Alfa, diotak saya terlintas kata Omega, dan saya malah nyanyi lagu teater ciptaan senior saya tentang Alfa-Omega.

Tapi saya anggap lalu, dan tidak saya tuliskan di Blog. Bau-bau tentang Alien (sebenarnya nggak suka kata ALIEN, kenapa harus mahluk dengan kebudayaan canggih ‘MDKC’ disebut Alien. Saya nggak tahu, nggak suka aja. Nanti saya sebutkan alasannya, karena ini ada kaitannya dengan Supernova IEP.)

Nah!
 

SAJAK MAGIS DEE
Saat saya buka halaman pertama, saya disambut Sajak Dee yang khas, tapi? Kok ini kan, sajak dari Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang jatuh, saya terus baca dan sedikit ngedumel, ini kok disambung-sambung begini sih, nggak dipisah per-satu halaman atau dikasih detil simbol Supernova di akhir sajak meski digabung pun.

Ini sajak Dee loh yang menurut saya menghabiskan 10 lembar pun nggak masalah deh, apalagi Dee bestselling novelist. Pembaca kaya saya juga akan rela kok membaca sampe 25 halaman pun. Saya mencari sajak terakhir yang mewakili IEP dan itu—jelas—ada di bagian terakhir sajak-sajak yang lain, saya jadi berfirasat ada apa nih dibikin bertumpuk begini.

Sayangnya penumpukan sajak ini, tidak lagi bisa membuat saya menikmati sajak magis Dee di episode IEP ini. Ada kehilangan detil kecil yang biasa Dee tuliskan di akhir sajak—Bahkan di Gelombang tidak ada—semacam momen realitas Dee, sebelum masuk ke Universe-nya Supernova. Semacam gerbang menurut saya. Atau mungkin saya yang terbiasa dengan konsep novel Supernova yang awal banget, sayanya yang nggak move on.  


GAYA BAHASA & LAJU CERITA
Saya punya ekspektasi tinggi, untuk seri terakhir ini. Satu sisi saya berharap gaya tulisan Dee, kembali ke Supernova; Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh. Sebab ini Grand Finale dari Supernova. Dimana Supernova dicetuskan oleh DIVA.

Saya membaca Review Calvin Michel Sidjaja, ia mengklasifikasi gaya bahasa Dee sebelum dan sesudah ‘Perahu Kertas’ Merasa sesudah Perahu kertas ada perubahan besar dari gaya tulisan Dee. Bagi saya, Supernova: Partikel, gaya tulisannya ada suara Zarah yang khas. Khas gaya tulisan karakter Zarah. Di Gelombang, memang agak sedikit mirip Partikel,  tapi masih ada suara Alfa yang khas. Kalau itu sebuah perkembangan gaya tulisan Mbak Dee, saya ikut bahagia, dan percaya setiap Penulis pasti berkembang gaya tulisannya.

Di Inteligensi Embun Pagi ini, Saya merasa emmm... kok kayak gaya tulisan Gelombang yah? Meski gaya penulisannya sangat efektif, dan memakai kata ganti orang ketiga. Jelas karena semua Tokoh sudah bertemu, dan menjadi sentral cerita. Ditambah paragrafnya pendek-pendek, ada yang tidak lebih dari 10 baris, itu membuat Pacing begitu cepat mengalir. Saya sedikit yakin, Dee tidak mau pembacanya bosan dengan plot yang dibuatnya. Dan saya membatin dalam hati, oiya ini Grand Finale, gaya bahasa cepat dan efektif lebih baik, maka saya memaklumi, meski masih berharap sekeren KPBJ.

Sebenarnya, saya merasakan Dee, ada di beberapa scene, kurang detil dalam deskripsi. Semisal scene di mana Gio menjemput Zarah di sungai, saat Zarah tidak menerima Firas yang sudah mati. Saya merasa Dee kurang sedikit detil memberi dramatik momen, jadi disitu deskripsinya kayak lempeng aja.

Untuk Pacing, saya bilang ini ngebut super. Kayak diboncengi sama pembalap. Meski kadang, ada selipan momen, misal Momen Zarah pulang ke rumah di Bogor itu bisa buat narik napas sebentar tetapi, setelah itu ngebut lagi, sebab otak kita sudah merasakan ketegangan di dalam cerita. Berganti POV terutama di Alfa dan Bodhi, itu ngebut pisan.


CLUE.
Saya pernah baca komik Clamp, Coz I Love You, dan saya merasa permainan plot Dee, hampir mirip dengan Komik Coz I Love You. Dee memberikan Planting & Clue akan Mitologi yang dibuatnya: Alien, Mitologi Sumeria, Annunaki, Infiltrant, Sarvara dan Harbinger, yang hanya sedikit di Supernova: Partikel dan Gelombang. Itu bagus, formula menanamkan rasa penasaran pada Pembaca.

Hanya saja, saya kaget ketika ada istilah baru Umbra. Yang dibuka di awal pertemuan Gio dengan Caskha Pumachua. Saya agak hah? Nggak ada planting, atau saya terlewatkan sesuatu dari novel sebelumnya. Banyak sekali tokoh figuran dari Supernova 1,2,3 yang menjadi tokoh pemicu bagi Tokoh Sentral. Saya kayak dikeroyok rasanya, Seperti Luca The Smoking Sun yang ngajarin Bodhi ngisep Marijuana. Lalu Ibu Sati, oke saya udah bisa nebak saat Ibu Sati kagum dengan Bodhi dan Petir, itu planting bahwa seorang Infiltrant tidak akan pernah kagum pada Peretas. Jadi saya bisa nebak dia Sarvara.

Saya semacam shock culture saja ketika semua Tokoh Figuran di Supernova Series menjadi tokoh penting yang membantu Akar, Petir, Partikel, Gelombang.


WAWASAN YANG MENGEJUTKAN BUAT SAYA.
Di IEP Banyak wawasan yang menjadi Dialog antar tokoh, memang bagi yang tidak paham wawasan itu menjadi agak sulit dimengerti. Rasanya dialognya seperti tingkat dewa. Ada satu kata Dhyana, saya suka Dee menggunakan kata itu.

Buat saya sebenarnya itu kata pengetahuan tinggi, dan saya juga sedang mendalami wawasan itu di jalur yang orthodoks. Ketika saya paham wawasan ini, saat saya membaca IEP. Saya mengenali apa yang dimaksud, Infiltrant, Sarvara dan Harbinger, dari kacamata lain saya: Mereka jadi metafora simbolik yang diciptakan Dee, atas dasar Dee mempertanyakan pertanyaan tentang Hidup ini. Nilai plus untuk IEP. (Diakhir review akan saya jelaskan lebih detil dikit)


YANG BIKIN SAYA GEMES.
1.Adegan Alfa saat memanggil Bodhi. Bodhi, Tree of Life! Sejak planing untuk menyelamatkan Petir, adegan kucing-kucingan ini bikin saya gemes. Gemes kapan Si Bodhi bisa berantem dengan Kung Fu-nya dengan si Togu atau Sati. Jadi adegannya ada action silat-silatan.

2.Ndelalah adegan kucing-kucingan ada karena Para Sarvara ternyata kekuatannya lebih powerfull yah si Simon, Sati dan Togu. Bisa membekukan gerakan Harbinger. Gemes!

3. Saya gemes karena Rueben satu pemikiran dengan saya tentang ALIEN, yang lebih pas disebut HEB (Highly Evolved Being) Alasan saya, kata Alien terlalu industrial dan SARA menurut saya, sedang dengan kata HEB itu lebih menunjukkan kemajuan spiritualitas.

4. Banyak sideplot mengejutkan disini, karena MainPlotnya di IEP adalah perjuangan Akar, Petir, Partikel, Gelombang untuk bisa masuk ke Kandi mereka di Asko. Dengan menato Bodhi, lalu membuat Petir kembali sadar ke jalan Harbinger sebab terkena efek Sarvara. Tujuan mereka masuk Asko agar mereka bisa mengunduh data, tentang siapa mereka sebenarnya, dan rencana apa yang membuat Takdir mereka adalah Harbinger.

Side plot ini, kayak Toni adalah Foniks dari Gugus Kandara, Gugus sebelum Gugus Asko. Nggak ada planting, dan itu mengejutkan saya. Sideplot yang lain adalah, Bong yang ternyata juga Gugus Kandara, dia adalah Bulan. Yang nama aslinya Candra.

Dan tebakan saya tentang Ferre adalah Harbinger tepat. Karena Ferre juga salah satu Gugus Kandara. Sebagai Ksatria.

Ada isu tentang Blundernya Diva Sang Bintang Jatuh. Saya ber-HAH?! Itu ada di halaman 446. Semua sideplot begitu tiba-tiba terkuak, ujug-ujug tanpa ada planting apapun, efeknya beneran mengejutkan. Semua begitu saja malih peran menjadi penting. meski ada dialog yang menjelaskan latar belakang yang tiba-tiba itu.

5. Saya agak kaget, ternyata Infiltrant bisa dikonversi jadi Sarvara tho? Apalagi Simon & Ishtar akan mengkonversi semua peretas, salah satu yang berhasil adalah Firas, yang Simon panggil Bumi. Sama kayak Zarah, Bumi.

6.Ketika portal bukit jambul hancur tidak berhasil mengkonversi Zarah menjadi Sarvara. Tiba-tiba saja Alfa mengetahui ada portal lain, Portal Cermin. Yang itu buat saya juga ujug-ujug, ada. Meski proses mengetahuinya Alfa mencari juga.

7. Kok Diva munculnya sedikit, beneran deh, Cuma jadi napi di gugus Asko. Liong sih bilang mencari suaka di Gugus Asko. Meski Lion menjabarkan segala hal tentang Bintang Jatuh yang blunder, karena menginginkan percepatan (evolusi kesadaran) di Bumi, karena dia tidak mau lagi bergerak di bawah tanah, dia mau Percepatan ini bisa dirasakan Harbinger dan Seluruh Manusia. Tapi tetap aja, buat aku Kok Diva keluarnya sedikit.

8.Saya pikir Zarah bakal mati di jurang, itu bikin gregetan dan gemes. Apalagi ada ramalan di Surat satu akan pergi yang lainnya bertahan. Dan Gio mengingat hal itu.

9.Joke-joke Dee selalu segar ditiap karakter, seperti Elektra, keluguan Bodhi, dan Alfa.


YANG JANGGAL MENURUT SAYA.
1.Firas akhirnya berhasil ditarik dari Sunyavima dan udah terkonversi oleh portal Bukit Jambul, dan Zarah melihat. Misteri siapa Firas, ternyata anaknya Simon. Janggalnya, sejak keluarnya Firas dari Portal itu kok nggak nonggol-nongol yah? Katanya Simon, Firas bakal ngebunuh Zarah. Mana?

2.Ini DIVA gimana nasibnya? Terusan di Gugus Asko? Kalo iya, berarti DIVA mati di Amazon dan tubuh sejatinya di Asko. Stuck disitu?

3.Ferre kedatangan Bong di Kantornya. Cuman nyapa Hallo Ksatria, dengan merdu. Habis itu nggak ada lagi. Krik-krik....

4.Nggak ada Rana di IEP, padahal Rana juga Gugus Kandara, sebagai Putri. Kayak nggak dibutuhkan banget Rana.

5.Kalo membaca hingga akhir cerita IEP, Buku ini janggalnya, menurut saya sambil saya pertanyakan. Tokoh utamanya jadi mengarah ke Alfa. Karena semua harus mendukung rencana Alfa. Dimana sebenarnya, saya pikir Percepatan yang dilakukan Bintang Jatuh untuk evolusi kesadaran manusia, gagal. Dan guru Liong bilang Gugus Kandara sekuensnya berakhir untuk mendukung Gugus Asko, karena memang ditakdirkan Gugus Asko gagal. Guru Liong tidak mau gagal supaya lahir Peretas Puncak yang syaratnya ada di Gugus Asko, pada Peretas Gerbang dan Peretas Kunci. Intinya mereka harus memiliki anak agar lahir Harbinger/Peretas Puncak.

Tapi munculnya Ishtar dan ingin mengkonversi Alfa kembali menjadi Sarvara karena dulu dia Sarvara? Anunaki, Alfa dan Pasangannya Omega. Alfa telah merancang pengkhianatan pada Ishtar, dan memilih Samsara. Jadi semua plot Supernova dari 1,2,3,4,5. Alfa yang bikin dengan bantuan Infiltrant. Intinya tokoh utama kayak ke Alfa, kerasa begitu saya.

6.Yang janggal dari semua yang saya sebutkan diatas, Ending yang terbuka, dimana Kalden Sakya dan guru Liong berjanji akan membantu melindungi Zarah dan Gio agar Peretas Puncak lahir. Saatnya tiba si Peretas Puncak akan diberikan tulpa, batu simbol tiga liukan heliks dalam bingkai Heksagonal.

Nah dengan ending yang kayak begini, terbuka dan banyak scene yang janggal kayak Ferre dan Bong. Rasa-rasanya habis ini kayak, bakal ada Supernova yang lain lagi deh. Jadi 7 buku. Saya merasa seperti itu. Akan ada Supernova yang lain setelah IEP.

Soalnya yaaa.. gimana yah, kejanggalan itu masa begitu saja. Tapi kalo memang begitu ya sudah.

Saya menyimpan kepercayaan bakal ada Supernova lagi di hati saya ajah kalo begitu. 

FINALE.
3 Bintang saya berikan. Bagi saya, ya inilah yang saya rasakan.

Sebab masih ada kejanggalan yang belum selesai. Plot memang tidak dragging, apalagi pacingnya benar-benar ngebut. Secara eksekusi, hemmm... POV yang loncat-loncat digunakan karena memang Tokoh Sentralnya terlalu banyak. Kalau berharap focus character akan sulit sekali, karena semua tokoh menjadi sangat penting.

Saya menarik kesimpulan tentang dialogkan Liong, Kell, Kas saat menjelaskan ke Akar, Petir, Partikel, Gelombang, Kabut, Foniks. Tentang percepatan, Dhyana, Samsara. Bagi saya, Infiltrat, Harbinger, Umbra dan Sarvara. Adalah simbolik bahwa Harbingers adalah kita semua, Manusia.

Sedang infiltant adalah sisi baik kita (saya susah dan nggak bisa bilang, Makna Infiltrant dari kacamata saya, tapi sisi baik atau malaikat penjaga itu mewakili maksud saya)

lalu Sarvara adalah semacam sisi jahat (sebenarnya kayak Iblis di dalam manusia, kayak Kemalasan, Ego yang tidak mau mati, semacam itulah)

Nah kita bisa nggak murni sejati untuk mengingat tugas kita di muka bumi ini sebelum mati (inilah kualitas Umbra, pelayanan, dharma) dengan berbuat baik, barangkali karma bisa terbayar dan kita tidak perlu jatuh dalam lingkaran Samsara saat mati kelak. Agar tidak menjadi Kaum Amnesia lagi saat dilahirkan lagi ke Bumi.

Dari Supenova IEP: saya mendapatkan hal, tentang Kesadaran. Tentang siapa kita di Muka Bumi, kemana kita akan pergi setelah mati, dan apa takdir kita?

Saya akan membaca Supernova kembali, mulai dari awal untuk menambal sulam review yang masih banyak bolongnya.
Ini bukan perpisahan. Ini juga bukan sebuah akhir. Tapi Awalan yang tepat.

Pada akhirnya saya hanyalah pembaca yang memang cerewet dan memang suka ngedumel. Sebab saya sempurna pun tidak. Sungguh bila saya memilki biliunan bintang dilangit, saya ingin hadiahkan untuk Mbak Dee. Sebab berkat Mbak Dee, sekaligus intervensi dari yang Transenden: Supernova Series membuat Hidup saya menakjubkan. Menjadi sejarah dalam Hidup saya, dan secara tidak langsung Roh saya telah merekamnya.

Kini, saya biarkan misteri, momen ini, saya lepaskan pada yang Maha Transenden. Sebagai wujud cinta yang bebas dan tidak terikat.

Namaste.

Curhatan dan Review buku Halaman Terakhir Yudhi Herwibowo

Saya di Prusa...! 
(*pengucapannya: Pruso *Saya diberitahu Mas Yudhi Herwibowo)
Sumaryah menceritakan apa yang terjadi pada dirinya saat menceritakan pada Djaba Kresna penuh emosi, menitikkan air mata dan amarah yang tak kuasa ia tumpahkan karena merasa sia-sia.

Siapa yang diprusa? Prusa? Kata apa itu? (baca Buku Halaman Terakhir kalo ingin tahu.)

Lalu cerita bergulir ketika wartawan Djaba Kresna menuliskan penderitaan Sumaryah, koran lokal jogja menjadi laris manis karena berita tentang Sumaryah. Apalagi ketika Hoegeng membaca berita itu di Koran, hatinya tergerak dan ia memerintahkan dua anak buah terpercayanya untuk menyelidiki kasus Sumaryah. Petualangan pun di mulai. Banyak intrik, sulitnya memecahkan kasus, sebab kasus itu diputar oleh mereka yang punya kuasa. Tidak hanya itu, satu kasus lain belum selesai, kembali menyeruak kasus lain yang mengguncang Hoegeng. Hingga akhirnya Hoegeng mendapat sebuah surat, surat yang tidak ia baca semua setiap baris kata di halamannya itu. ia hanya melihat sedikit ke bagian akhir, di halaman terakhir. Surat apa? kasus yang bagaimana? Kenapa Hoegeng mendapatkan surat itu?

Buku ini sangat rekomendasi untuk dialami pembaca. Buku yang mengalir, ringan, dan cepat. Hingga tak terasa buku setebal ini bisa kita tuntaskan.

Sungguh berkesempatan membaca Halaman Terakhir karya Mas Yudhi Herwibowo, saat saya mendaftar di OPMI (Obrolan Pembaca Media Indonesia) beruntungnya saya terpilih, dan Mbak Yani dari Media Indonesia menghubungi saya, akan mengirimkan Buku Novelisasi Hoegeng ke rumah.

Di tengah himpitan banyak Deadline: Deadline Script Kelas Internasional, Deadline leha-leha, Deadline Gegoleran Di Kasur, membuat saya harus menuntaskan semua Deadline ini! Alhasil, satu Deadline berhasil tercapai, Deadline Script, sisa duanya belum terlaksana (hahay)

Saya agak khawatir dengan leletnya saya membaca, karena saya start pukul 21:00WIB padahal besok acaranya, di Crematology Coffee Roaster pukul 15:00WIB. Saya pun berdoa: Semoga saya besok makin ganteng ajah, loh salah! Semoga kelar bacanya. Lalu teringat sahabat bilang baca scanning, saya pun mencoba. Alhasil yes! 439 Halaman tuntas dibaca, sebenarnya 436, sisanya gambar iklan buku Noura... ya harus dilihatlah.

Oke Cukup ngomyang*-nya. (*Ngemeng Curcol) 

 (*Mas Yudhi asik menjelaskan sedikit proses kreatifnya dan yang memakai baju orange adalah Mbak Yani dari Media Indonesia)

Buku Halaman Terakhir, pikir saya ini akan menjadi novel yang membosankan, yang namanya Novelisasi seorang tokoh, pasti akan ditulis dari tokoh lahir sampai meninggal, dengan garis lurus seperti itu saja. Tapi hal itu tidak ditulis oleh Mas Yudhi Herwibowo. Mas Yudhi begitu piawai membuat cerita bergerak cepat, sebab per satu-bab halamannya sedikit, mungkin diketik sekitar 5 lembar A4, itu sebuah taktik agar membaca juga tidak bosan. Sebab sudah berada di bab selanjutnya. Plot selalu loncat ke tokoh-tokoh yang terjaring dalam satu masalah yang sama. Bahasa yang sangat mudah dicerna, tanpa metafora yang rumit, dan dengan akhir bab yang di beberapa tempat nge-hook. Itulah enaknya Novel ini.

Selesai membaca saya bergumam: Tokoh yang banyak ini, mengingatkan saya pada Novel-Novel Dan Brown. Bila di dalam Film mengingatkan pada Serial CSI. Di Indonesia pernah ada serial: Dunia Tanpa Koma, dan serial Enigma Net TV.

Cerita tentang Pak Hoegeng di dalam Novel ini mengangkat kasus pemerkosaan Sumaryah, gadis penjual telur Di Yogyakarta, dan Kasus Sim Kuning penjualan mobil mewah secara underground.  Dalam Novel ini cerita tidak hanya berfokus pada Hoegeng, ada Djaba Kresna wartawan yang begitu berempati pada Sumaryah yang diprusa 4 orang,  yang ternyata ujung kasus ini---Biiipp *Sensor*

Lalu kisah Sim Kuning yang ternyata ujung dari konflik ini bermuara pada---Biiip *Sensor*

Selesai membaca, saya sedikit sedih, geram pada kasus-kasus yang *menghela napas dan ikut berempati pada Pak Hoegeng. Sebab dua kasus besar itu penuh intrik yang dibuat oleh---Biiipp *sensor* siapa yang tidak geram, ketika Hoegeng berjuang bersama dua anak buahnya mencari pemerkosa Sumaryah, apalagi Djaba Kresna berhasil mendapatkan 4 nama pemerkosa tetapi Kasus ini malah *menghela napas* dan itu pun terjadi dengan Kasus Sim Kuning.

Ketika datang di acara OPMI saya mendapat banyak informasi dari Pengarangnya, Mas Yudhi Herwibowo. Dari pemilihan tokoh novelisasi, penggarapan novel, hingga akhirnya diterbitkan. Saya ikut tergugah ketika Mas Yudhi bilang ia sempat terharu melihat kisah Hoegeng ditayangkan di Kick Andy Metro TV.

Menurut saya buku ini layak menjadi buku bacaan untuk Anak-Anak Sekolah Menengah Atas dan semua orang, buku ini memberitahu bahwa Indonesia pernah memiliki sosok Polisi yang sangat jujur. Sejarah haru mencatat nama Hoegeng, bangsa Indonesia harus tahu. Untuk apa? untuk meluhurkan kejujuran dan semangatnya.

Secangkir kopi dan roti bakar rasa cokelat keju, teman yang tepat saat anda membaca buku Halaman Terakhir ini. 

Acara Opmi saat itu pada tanggal 31 Oktober 2015.
Review ini ditulis 02-03 Desember 2015.



Curcol & Review Supernova: Gelombang




Hallo Guys Thank you udah mampir ke Blog saya dan Review buku Supernova: Gelombang.
Oiya SERIBU TAHUN MENCINTAIMU, Novel saya akan release maret, 2017 ini. Kisah tentang Cinta yang membara seribu tahun, nggak percaya cinta bisa membara seribu tahun? Cek dan baca deh, pasti kamu jadi percaya. Seribu Tahun Mencintaimu ada di Wattpad dan Storial. Yuk mampir kesana, jangan lupa komen dan voted yah. terima kasih.

Dan Sekarang selamat menikmati Review Supernova: Gelombang.




Review ini, lebih banyak curcol saya akan Buku Supernova: Gelombang yang selesai saya baca. Banyak detil di buku ini yang saya komentari dan Prediksi saya pada Supernova Intelegensi Embun Pagi. Jadi ini sangat Spoiler. Ingat saya sudah memperingatkan, bahwa ini Spoiler. Bila anda belum baca Buku Supernova, jangan baca tulisan saya. Lebih baik baca dulu semua novel Supernova, baru silahkan mampir ikut berspekulasi dengan saya.

Mari kita mulai perjalanan ini.



Saya selalu suka dengan Sajak pembuka di halaman setelah Daftar Isi. Dee selalu membuat sajak menarik yang mewakili setiap karakter.

Pada keping 43. Saya sangat terpukau dengan Gio yang masih terus mencari Diva. Hingga ia bertemu lagi dengan The Man with red Montera, Amaru. Yang menjelaskan keberadaan Diva, dengan secarik kain dan 4 batu. Itu keren gilak!

Ada kalimat The Man with red Montera, yang membuat saya waspada: “Tetap berhati-hati, Senor. Bukan Cuma pemandu yang tepat yang diberikan untuk kalian. Melainkan, juga musuh-musuh yang tepat.” Dan The Man with red Montera menyuruh Gio menuju Lembah Urubamba untuk menemui seseorang yang akan membuka ingatannya. Tunggu, Amaru bilang kalian? ingatan? Jangan-jangan Gio salah satu; S. Siaaaaal--- adegannya bikin jantungan, Gio hanya ditinggalkan batu dengan simbol (). Jantung saya berdegup kencang.

Keping 44. Awal saya kaget, loh kok Ichon? Bukannya Alfa yah tokohnya. Kenapa Ichon, kalau nama panggilan jauh banget dari Alfa. Dan tentu saja saya kontan terbahak Ichon dari Thomas Alfa Edison, kejutan yang menggelegarkan tawa saya, Dee memang bisak ajah kalo ngasih nama Tokoh!

Namun entah mengapa masa-masa Alfa di Sianjur Mula-Mula alurnya begitu terburu-buru. Kemunculan Si Jaga Portibi yang magis pada saat upacara Gondang. Lalu mimpi Alfa terjatuh di tembok batu, dengan gambar simbol yang ia kenal. Dan ada celah cahaya di atasnya. (*mohon diingat Mimpi Alfa adalah hal paling penting dari Novel ini)

Lalu Nai GomGom yang seolah kesurupan, seperti Guru Ramal Harry Potter, Trelawney. Memberikan pertanda pada Alfa. Dan twisted karakter si Ompung Togu Urat, serta kejutan Ompung Ronggur Panghutur yang menceritakan siapa Alfa sebenarnya!

Momen paling besar ketika Alfa duduk di dek kapal, dan bernyanyi bersama Frank Sinaga dan memilih nama Alfa Sagala. Itu adalah Planting Alfa, bahwa dia akan pergi ke New York. The City That Never Sleep.

Kepindahan Alfa ke Jakarta, menjadi loncatan besar. Sayang Dee tidak menceritakan Alfa yang bergadang dan menikmati kesendiriannya, menulis TTS atau mendentingkan gitar. Golden Momen ketika kesunyian menjadi sahabat Alfa dan membuat adegan Alfa jatuh tidur secara tidak sengaja dan bermimpi. Kembali melihat tembok batu itu dengan lebih jelas, dan Si Jaga Portibi. Di Jakarta pun hanya selintas lewat saja.

Ketika dengan mudah, seperti memang sudah ditakdirkan. Saat Eten diperintahkan Ayahnya bekerja di sana, itu membangkitkan lagi hasrat Alfa akan New York. Eten gentar, Alfa bertaruh pada dirinya sendiri. Dengan mengajukan diri. Dan Alfa pun berhasil ke New York.

Dari sini saya ingat, Formula Hero Journey yang selalu diterapkan Dee di Akar, Petir dan Partikel. Begitu pula pada Gelombang. Jadi kalau ada yang bilang sama dengan Partikel, menurut saya itu karena formula alur yang digunakan. Terlebih lagi secara Karakter, Akar, Petir dan Partikel punya ciri sendiri, satu hal yang sama, semua karakter ini punya selera humor yang bagus menurut saya.

Perjuangan Alfa di Hoboken, dan New York. Semua terasa biasa. Tidak ada planting Alfa jatuh tertidur dan bermimpi, apalagi Si Jaga Portibi tidak muncul. Hanya sekilas bayangan saja. Tidak ada keanehan yang berarti. Pun di tengah kehidupan Alfa di New York, tidak ada adegan yang menaikan adrenalin lagi. mulai dragging.

Dee tidak memberikan detil info, entah apa saya yang terlewat, bahwa ia akan bermimpi bila tidur dalam kurun waktu satu jam. Info ini Alfa sebutkan di Somniverse. Saya mengharapkan informasi ini ada di saat Alfa di Jakarta. 

Ada satu adegan yang saya sukai, momen di mana Alfa bermain gitar di club untuk memenangkan kompetisi. Dan dia tidak menang, hanya juara favorit. Perasaan Alfa di adegan ini menjadi acuan saya pada ending review ini. Tentang tidak selamanya kita bisa mendapatkan apa yang kita mau, meski kamu hebat melebihi apapun.

Adrenalin pun naik kembali ketika Troy dan Carlos memberikan kartu nama untuk hadiah ulang tahun Alfa. Satu hal yang saya pelajari dari Dee, beliau punya formula ketika Tokoh Utama bertemu dengan Tokoh Penting lainnya, ia akan menggunakan satu adegan magis, dan sayangnya adegan di kasih kartu nama oleh Troy dan Carlos di ultah Alfa sangat biasa sekali. Tidak senampar, ketika Ferre hendak menolak semua wartawan yang ingin mewawancaranya dan melihat kupu-kupu putih masuk dari jendela melayang sejenak lalu keluar lagi. Biasanya Dee menggunakan hal magis itu, seperti di Petir sebelum ketemu Ibu Sati dikira rumahnya, rumah berhantu.

Ketegangan kembali naik, ketika Alfa akhirnya bertemu dengan Ishtar. WHAT! Ishtar, Star yang tetek-nya ditatto sama Bodhi? Isthar Summer.

Cerita mengalir begitu cepat, Saat bercinta dengan Ishtar, Ingatan Alfa seperti mengetahui siapa Isthar sebenarnya. Dan Alfa pun bermimpi: ada Ishtar dan Si Jaga Portibi. Setelah sadar dan ditinggalkan Ishtar. Alfa masuk ke Somniverse. Gegara ia tertidur 5 Jam, dan itu membuatnya panik. Nicky dan Dr. Collins membantu Alfa, untuk belajar Lucid Dream. Sebab Alfa shock melihat rekaman dirinya yang ternyata tubuhnya mencari cara untuk membunuh dirinya sendiri saat tidur. Hingga Alfa bermimpi, ia mulai menyadari sesuatu, mimpinya sebuah informasi.

Dan lagi-lagi, sayang banget ada adegan yang dibuat biasa saja, nggak berkesan, saat Alfa membeli buku bekas Di Upper East Side. Buku Milam Bardo yang ditulis Dr. Kalden Sakya. Dari buku itu, Alfa mencoba banyak tehnik agar bisa memahami mimpinya.

Hingga Alfa bermimpi lagi, di tempat yang sama tembok yang menjulang tinggi, lalu ada Si Jaga Portibi dan kapur, Alfa berusaha mencoret tembok dengan kapur. Namun Alfa kembali terbangun dengan keadaan yang menyakitkan. Dan belum tahu apa arti Mimpinya. (*Clue-nya di mimpi yaaah diingat) Alfa mendapat penjelasan dari Dr. Colin, bahwa ada satu kasus Kalden Sakya tidak kembali ke New York. Satu kasus dimana Kalden Sakya menghilangkan seorang Oneironauts. Maka Alfa pun menyuruh Carlos untuk mencari tahu keberadaan Kalden Sakya.

Memang seperti Repetitif, namun Mimpi-Mimpi Alfa mulai berkembang. Paling mengejutkan Alfa bermimpi di suatu tempat dengan tanah yang berpasir dan berkilau. Ada beberapa bangunan dengan atap meliuk melayang jauh di atas Alfa. Salah satu bangunan yang simbolnya begitu akrab Alfa lihat. Meletuplah kata, “Asko.” O-ow! Asko itu dimensi lain? Dan sepertinya tebakan saya di Partikel tentang portal yang menuju Dimensi Lain, jangan-jangan ke Asko.

Alfa pun bertemu dengan seorang Perempuan dengan tubuh tinggi semampai, garis muka tajam, mengenakan gaun kelabu dengan bagian tepi putih dan bebat kain putih dipinggang. Dan cara bicaranya seperti pada Surat untuk Akar dan Partikel. Oh tidaaakk, jangan-jangan ini, DIVA! Dan ya setelah masuk ke Asko kedua kali, Perempuan itu menjawab, Gugus sebelum kalian. Penjaga Kandi di Asko. Kode nama, Bintang jatuh! Jreng! Apaaaa gue bilang, ini Divaaa! Alfa masuk kembali ke mimpinya yang tembok menjulang tinggi, kali ini ia menyadari siapa Si Jaga Portibi, dan tembok yang berdenyut hidup. Alfa menyadari bahwa tempat tembok itu bernama; Antarabhava.

Aaakkkk! Bener-bener, akhirnya sang Supernova muncul di Asko. Sebangunnya Alfa dari Asko, ia menggambar tentang realitas, semacam penjelas seperti The Man with red Montera, tetapi dengan bahasa gambar yang dimana ada tangga spiral. Di mana Asko dan realitas kita adalah dua dunia dalam satu koin. RectoVerso. Dari situ Alfa sadar, itu bukan mimpi. Tetapi memang Alfa ditakdirkan untuk bisa masuk ke Asko dan ada sesuatu di sana. Shirata satu kata kunci yang harus Alfa ketahui dan hanya Kalden Sakya yang tahu.

Lewat Rodrigo, Alfa tahu keberadaan Kalden Sakya di Tibet. Namun tidak dengan keberadaan Ishtar. Maka berangkatlah ke Tibet dengan sedikit drama di mana Nicky pengen ikut, yang bisa saya tebak sejak menawarkan pelukan, Nicky ngebet sama Alfa. Dan diperkuat perkataan Carlos.

Di Tibet, Alfa dipandu oleh Pemba-la, orang yang sanagat Alfa percaya. Ia mulai mencari keberadaan Kalden Sakya. Hingga Alfa putus asa dan saat makan di sebuah kedai. Ini momen magis! Karena sang pemilik kedai memberikan semangkuk Mie. Alfa bingung dan memanggil si pemilik kedai, dan Alfa bilang tidak pesen mie. Si pemilik kedai pun mengatakan Alfa sering memesan makanan ini, Alfa ngeyel bilang belum pernah ke kedai ini. Si pemilik kedai mengucapkan kata, “Ah you Forget. It’s ok. Eat. No pay.” Ini plantiiingg pasti bakal ada yang lebih jeder lagi deh pasti!

Saat hendak belanja alat musik. Alfa dicopet, bukan dompetnya tetapi carik kain yang menyimpan 4 batu! Alfa terkejut. Ia mengejar, namun udara tipis Tibet tidak bisa membuatnya lincah berlari dan Alfa terengah-engah. Memasuki sebuah lorong tinggi dan bau kotoran, hanya ada celah di atas kepala Alfa dengan cahaya matahari menyorot. Sialan logis banget adegan ini, Dee bener-bener deh gemes saya! Alfa tersadar saat ia merasakan sesuatu di kantung seharusnya carik kain berisi batu itu. Saat ia merogoh kantungnya, ada kapur di sana. Deng! Nah kan apa hayo ini!

Alfa tersadar, pada tembok ada tiga coretan kapur, sama yang ada di dalam Mimpi yang selalu menghantuinya. Dan Alfa melihat celah atas yang dimasuki cahaya matahari, lalu di depan pintu tak terduga Alfa menemukan simbol lingkaran dengan cuatan ombak di tengah yang berwarna orange. Alfa masuk dan disambut pencopet cilik yang mengambil batu-batunya. Dan di sana Kalden Sakya menyambut Alfa.

Yang paling mengerikan adalah, Kalden Sakya berkata, bahwa lorong tembok tinggi, lalu kapur dan simbol di depan pintu adalah semua permintaan Alfa. Alfa sudah merancang kehidupannya sebagai Alfa Sagala—dari ia lahir sampai ia berdiri di depan Kalden Sakya—di kehidupan sebelumnya. Mimpi-mimpi tentang tembok itu dari kecil hingga besar adalah petunjuk akhir menuju Kalden.

Sungguh saya shock! Apalagi Kalden Sakya mengatakan tentang Tulpa: batu-batu yang dibawa Alfa, Gugus yang memancar untuk mengenali gugus lain. Tulpa yang selalu menemani bila Alfa reinkarnasi, berganti tubuh dan Si Jaga Portibi adalah Tulpa yang selalu menemani Alfa.

Lalu ada Harbinger/Peretas, Infiltrant, dan Savara. Kalden Sakya menjelaskan semuanya, betapa dunia realitas sekarang, adalah penjara, dan beruntung mereka yang amnesia. Bagi Kalden Sakya menjadi Infiltran adalah kutukan. Bila ia kaum Amnesia, ia bisa jatuh cinta pada Bumi berkali-kali. Dan Alfa adalah kaum Amnesia, yang saya yakin Bodhi, Elektra, dan Zarah adalah kaum Amnesia. Dan mereka punya rencana besar ketika mereka ingat satu sama lain.

Infiltrant adalah mereka yang tetap menyambung informasi untuk Kaum Amnesia. Informasi agar mereka ingat siapa mereka sebenarnya dan ada rencana besar yang akan mereka lakukan. Lalu Savara, kaum yang menyamar dengan sikap baik dan nampak tersamarkan kejahatannya, yang tujuannya untuk membunuh kaum Amnesia. Agar gagal dalam mewujudkan rencana mereka.

Namun misi belum kelar, Captain! Kalden pun mengajak Alfa ke pondoknya tempat ia retreat. Menyuruh Alfa kembali ke Asko dan ia bisa membantu Alfa bertahan lama di Asko dengan Shirata yang dibutuhkan Alfa. Namun tidak di Lhasa, terlalu banyak Savara. Maka berangkatlah, Kalden Sakya, Alfa, Norbu, Nicky dan Pemba-la. Sampai di desa Norbu, Kalden menyuruh Alfa untuk berangkat berdua, dan terjadi konflik batin Alfa, teringat tentang hal Togu Urat. Alfa takut Kalden Sakya adalah Savara. Maka Alfa mengajak Pemba-la.

Sampai di jembatan yang rapuh, Pemba-la membuat kepercayaan Alfa menghilang pada Kalden. Dan Pemba-la mengajak untuk menyeberangi jembatan dan menyuruh Alfa meninggalkan Kalden. Dan saat itu. Pemba-la menusuk pisau ke dada Alfa, namun tidak kena. Alfa langsung sadar, Pemba-la Savara, Kalden menolong Alfa dan Pemba-la jatuh ke sungai di bawah jembatan dengan ketinggian yang dapat membunuh siapapun yang berani loncat.

Alfa panik dan menjelaskan, Sarvara tidak pernah bisa mati. (*Clue lagi nih)
Sampai di pondok Alfa yang kaget melihat ada Nicky, dan sedikit konflik. Agak ribet menurut saya. Pun memulai tertidur, dengan berbekal mantra yang Alfa baca di buku Mulam Bardo. Alfa kembali ke Asko. Dan disana, Alfa masuk ke dalam lingkaran yang melayang di udara, kandi Alfa. 

Alfa pun akhirnya menyadari siapa ia sebenarnya. Ia sudah mengunduh semua informasi. Ternyata lingkaran melayang itu adalah gelombang dan Alfa adalah lingkaran itu dalam wujud Manusia.

Yang paling shocking lagi. Saat Alfa berhadapan dengan Bintang Jatuh. Alfa bertanya ngapain Bintang Jatuh di sini, karena yang mendesain Asko adalah Alfa. WHAATTT! Alfa arsitek dari Asko. Dan ia akan menemukan kelima temannya. Gugus Oktahedral.

Ini yang bikin saya berpikir. Kenapa Bintang Jatuh terusir. Sang Gugus sebelumnya.

Dan pada ending Gelombang yang makin mengejutkan, saat Alfa terbang ke Jakarta. Salah satu penumpang yang duduknya di sebelah Alfa telat datang. Dan memperkenalkan diri, ia bernama Kell. Apalagi Alfa merasakan denyut yang memberinya alarm, ada Infiltrant, Savara atau Harbinger di pesawat yang ia tumpangi.

JRENG!

Sungguh cerita Gelombang memang sangat Mind-Blowing. Dee mengembangkan lagi dunia Supernova. Banyak istilah baru yang dibuka di Gelombang, seperti Sarvara, Infiltrant, Harbinger. Dee memang bisak ajah! Bikin saya penasaran!

Prediksi saya:

Gio adalah salah satu Harbinger. (*Ya iyalah semua juga udah tahu) Dari 6 orang. Bodhi, Elektra, Zarah, Alfa, Gio dan satu lagi spekulasi saya adalah Ferre. Karena dia Ksatria.

Kell bisa berarti dua hal. Infiltrant atau Sarvara. Tetapi saya lebih yakin adalah Sarvara. Ingat kata-kata Amaru dan Kalden tentang musuh yang tepat. Setiap Harbinger memiliki Sarvara yang tepat. Dan Kell pernah mati kena ranjau. Kenapa Kell, Dee sepertinya ingin di Intelegensi Embun Pagi, pembaca akan terluka hatinya, sebab Dee membuat pertarungan besar antar karakter yang tadinya saling mengasihi, memercayai dan mencintai.Menjadi musuh mereka.

Gambarannya begini:
Kell adalah Sarvara untuk Bodhi.
Ishtar adalah Sarvara untuk  Alfa.
Mpret kemungkinan Sarvara Elektra.
Firas adalah Sarvara untuk Zarah
Diva adalah Sarvara untuk Ferre dan Gio. Salah satu dari Ferre atau Gio akan mati. Gio kelihatannya, karena lebih dramatik, pembaca cewek juga tahu Gio kece badai dari muka sampai kaki.

Masih spekulasi lain. Surat untuk Akar dan Partikel itu yang bikin Diva, untuk memancing semua masuk ke Asko dan pertarungannya di Asko yang baru ciptaan Alfa.

Pertanyaan saya, ketika Akar, Petir, Partikel dan Gelombang sudah saling bertemu, termasuk Gio dan Ferre. Lalu mereka masuk ke Asko. Terus apa arti Matahari Kelima akan terbenam, apakah ada bencana besar? Melihat timeline yang ada di Novel Supernova, Spekulasi saya apakah ini ada hubungannya dengan tsunami di Aceh?

Diva sang Gugus Pertama, Bintang Jatuh? Mereka mengumpulkan para Harbinger untuk apa?

Apalagi di Gelombang, Alfa bertanya kenapa Bintang Jatuh ada di sini,  Di Asko? Karena Alfa tidak percaya pada Bintang Jatuh. Lalu mereka berdua menghilang.

Saya merasa, nanti Supernova Intelegensi Embun Pagi, bakal twist ending. Spekulasi saya seperti Komik RG Veda Clamp, (*saya lupa-lupa ingat baca tahun 2001 waktu itu dan komiknya hilang dipinjem temen yang juga menghilang entah di mana) 

Tentang si kecil Ashura yang dibuang ke Kekkai dan ditemukan oleh Yasha, mereka mencari tahu tentang Gugus 7 Bintang dan mengumpulkan mereka untuk melawan Raja yang menguasai langit dan dunia. Tetapi sebenarnya, saat Gugus berkumpul dan hendak melawan. Ashura membunuh semua Gugus untuk diambil kekuatannya dan menjadi Ashura. Ternyata Raja Langit dan Dunia itu pun kekasih dari Ayah Ashura. Dan memohon agar membunuh semua Ashura agar tidak terjadi takdir Ashura. Membinasakan semua Klan. tetapi raja langit juga mati. dan Ashura hanya bisa takluk oleh Yasha, yang selalu ada disampingnya setiap saat. (*kalo nggak salah)

Ruang spekulasi Grand Finale Supernova makin membesar. Dee memang bikin saya gregetan, dan ia berusaha membuat cerita tidak tertebak. 


Sebelum saya tutup curcolan ini, saya menyadari satu hal. Banyak pembaca di luar sana selain saya banyak berharap, Supernova Gelombang harusnya begini dan ini. Namun akhirnya saya ngeh: Dee Lestari membuat Supernova tidak untuk mengenyangkan harapan kita. Tapi membuat kita penasaran. Dee sudah merancang konsep ini tahun 2001, DNA-nya sudah ada. Tugas Dee meriset dan menambahkan informasi dalam DNA Supernova yang kemudian merekahkan dalam bentuk adegan.

Namun karya Dee yang Supernova. Termasuk mengubah pandangan saya terhadap Hidup. Saya merasa dulu belum menemukan kata yang tepat, tentang saya yang sejatinya mencari, meretas jalan untuk tahu sebenarnya untuk apa kita di Bumi ini? Lalu Karya Supernova Dee menjadi peta, menjadi informasi, penghiburan, serta menemukan Kata yang tepat untuk diri saya: Pathfinder. Dan saya salah satu Pathfinder, seperti kebanyakan Pathfinder yang di luar sana dan pernah saya temui pada perjumpaan yang tidak terduga.

Satu lagi, saya adalah Pembaca Dee yang juga ter-aDEEksi. Buat fans yang lebih berat, garis keras, dan hardcore, dari saya. Please jangan maksa dan nanya kapan Intelegensi Embun Pagi keluar, itu seperti maksa dan memburu Dee. Biar waktu yang menjodohkan kita. Percaya deh, itu akan Indah pada Waktunya.

Untuk Mbak Dee Lestari, Be Save, Be Healty as always. Selamat berproses kembali. Kami semua menunggu Supernova: Intelegensi Embun Pagi. Dalam gejolak kami masing-masing.

Namaste _/|\_
Nikotopia