Listen

My New Novel

Showing posts with label Poetry. Show all posts

Kekasih Hati

Aku sepi, kamu sepi
            Kita merasa sendiri
            Di kamar yang selalu menawarkan ilusi

Takdir mempertemukan kau dan aku
           Kita berbagi tawa dan sendu
           Setiap waktu

Kini diam-diam hatiku berkata
          Kau membuatku merasakan cinta

(n)

Bertemu Hesse di Goethe

Kesunyian menyergap ketika saya memasuki ruangan penuh kursi dan beberapa orang yang membawa mimpi. Sunyi yang kuyup. Nyaman melingkup. Ada tumpukan buku memijarkan cahaya, berbisik halus seperti undangan untuk dibaca. Seorang wanita bersuara tulus, dengan sedikit humor menawarkan buku itu. Saya membeli dan terpaku.




Gong berbunyi buru-buru saya menyapa kopi, di meja luar ada wanita cantik menawarkan sekerat roti. Roti dari jerman. Terima kasih saya mengurai senyuman.  



Saya ajak kopi duduk dalam gelas kertas, bersama kertas acara dan buku bersampul batik yang menguarkan wangi cahaya.

Wanita cantik membuka kelambu acara. Melesatkan kebahagiaannya atas kedatangan kami semua. Sesaat saya membayangkan kami adalah perkumpulan Dead Poet Society. 



Sunyi menepi, ketika Pak Trum membaca satu sajak Hesse dalam bahasa jerman, Pak Agus membacakan terjemahan. Saat itu saya memejam, ada gaung dari jauh, bertemulah saya dengan Hermann Hesse yang teduh. 



Obrolan pun terjadi, saya mencoba bertanya tentang sajak Hesse yang saya cintai dan pertemuan saya dengan Hesse lewat Siddhartha, Journey To The East, dan Demian. Lalu waktu mengelabui, di balik pintu kaca, malam tersenyum penuh arti. Acara pun harus undur diri.



Semoga kelak bisa bertemu, Pak Trum dan Pak Agus R. Sarjono lagi. Yang membukukan karya Penyair-Penyair Jerman yang mencintai Puisi.




29.11.2015.

Sabda Sexy


kau sekeping kondom terselip disaku celana
aku gincu merah yang menyayat bibir paling kencana
mungkin kau peluh syahwat terpasrah
sementara aku bokong yang menggelepar gelisah

begitu kau melenguh pedih subuh merintih
gegas aku menikam rerimbun kecupan matahari
sebelum syair kelam percumbuan kita kian memutih
telah sampai aku dirahim sunyi menekuri buaian mimpi

duh, betapa lirih jilatan-jilatan liar yang terajah dilekuk tubuhmu
membuatku mengandung gegap gairah pada kelamin waktu
maka, hisaplah segala desahan selagi lekang Hidup masih ribut
agar kau dan aku tak perlu takut redup pun surut

kau kondom terkulai selepas bercinta
aku gincu merah yang meninggalkan cupang di dada
kala tempat tidur lelah menanti dongeng malam hari
diam-diam tuhan menaburkan butiran-butiran sabda sexy

september, 2007

Di Ujung Pembakaran


betapa langkah-langkah takut serta gemetar memapahku
ketika kumiliki hasrat memasuki lorong ketidakpastian di mripat bulan sabitmu
membawa gairah api yang menjilati segala guguran kelopak-kelopak mimpi yang menguarkan keharuman matahari

belum sampai didalamnya, kuratapi keasingan
seperti hawa yang begitu bodoh menikmati rayuan-rayuan sang ular
dan saat itu Hidup membisikiku; sangatlah sulit bagimu melarungkan kepingan-kepingan masa lalu yang mengoyak lukisan bisumu.
tapi meski memanggul salib luka, percayailah degup paling kekal ‘Cinta’

maka dihadapan semesta api ini wahai engkau jiwa yang tersesat dalam hijaunya dongeng-dongeng perdu
maukah engkau seberani Ibrahim
melompat untuk terbakar bersamaku
menetang seribu tuhan                         
sekedar mereguk liarnya kebebasan
menggelorakan sorga dan birahi
                                          untuk menjadi abu
                                                                   diujung pembakaran

2008

O(nani)


Tersengat kejamnya sepi dan bintang-bintang diatas sana enggan menemaninya bersuci; ia pun mulai mencucup tiap debar kelam ketika dalam kepalanya beribu bayang merasuki.

Perlahan melebur dilembutnya birahi, sembari mendesahkan sembilan-puluh-sembilah nama gusti tanpa takut kehilangan diri. Ia serupa ungunya bunga pagi yang dikecup adzan awal hari untuk terburai di setiap pagi.

Ini bukan sorga-bukan pula neraka. Begitu napas memburu tumbuhlah kuncup luka yang pelan-pelan mekar di dada. Lalu luruh menjelma serpihan bara dan gerimis jingga. Sampai akhirnya ia memahami; Cinta hanyalah stupa yang dipuja-puja. Bukan kitab wengi yang mengajarkannya menjadi perempuan sekaligus lelaki. Bukan anak kunci yang menyibak selubung misteri manunggaling kawulo gusti.

Ia pun melambung. Menuju entah. Entah-Berantah. Memerah, layaknya senja yang melingsir pasrah. Tetapi ia tak membutuhkan lubang atupun liang untuk menitipkan benih-benih kehidupan. Ia hanya butuh ranumnya kerinduan pada sepasang mata yang menyimpan cahaya dan kegelapan.

Dalam deru yang semakin menengang. Ia meledak. Melepaskan raungan nikmat maha-sakit yang membuat dirinya pecah terserak.
Dan pada lorong itu; ia adalah naga yang menjulurkan lidah untuk menggapai ekornya sendiri.

Oktober, 2008

Sekerlip Lilin


jikalau sekerlip lilinmu hendak meredup
jikalau engkau memintaku untuk meneteskan ribuan hujan di mata api ini
jikalau engkau hadir di sini, sesaplah sejenak kisah kesunyianku;
sebelum lilinmu benar-benar meredup, sebab begitulah desau kabarmu
namun, bukankah semua lilin akan habis terbakar?

maka untuk apa engkau mengkhawatirkan sesuatu yang sudah tercakar
pada kitab abu-abu yang buat kita hanya bertanya-tanya dan akhirnya duduk diam membisu

tenang, kubiarkan engkau mendengar dendang nyanyian miris hujan
dan engkau akan melihat, betapa dikedalamanku basah, benar-benar basah, hingga aku sesaat tidak ingin merekah
menatap matahari yang berharap aku tak perlu mengkerut pada suatu kisah yang terkadang datang menjajah

aku seliar api
engkau selembut angin
apa perlu kita bertanya pada embun pagi yang cukup untuk menuntaskan dahaga kita
bahwa tarian kita berbeda

mari menari sajalah
berkerejap sejati
cukup untuk belajar menaklukkan mengapa kita berjalan berputar untuk berada di puncak diri

sampai suatu saat, di sanalah
kita memahami setiap lilin meredup
bukan untuk membuat kita surut
namun untuk membuat kita larut
dalam dongeng sejati yang senantiasa kita hirup

12 April 2009

Malam: Mari Kita Bersulang!


untuk segelas mimpi yang kita teguk berdua
kau dan aku saling berkaca
untuk degup yang kita hayati bersama
kau dan aku; ayo berdansa!

menikmati wangi, kerlip seribu kunang-kunang, dan hangat membara
hingga kita temukan sesuatu terselip di dalam dada
yah, debar itu
rasakanlah. . .

mari bersulang kembali, menemukan kelopakkelopak ilahi
guguran dari sembilanpuluhsembilan nama gusti
dekaplah biar gelas mimpi ini terus terisi
hingga kita cemerlang menuju sejati

namun jangan biarkan mabuk merutuk
kepada kepala kita yang melulu sibuk
melarung saja pada aliran saat yang meliuk-liuk
hingga kita melepaskan doa di ujung kantuk

Serpong, 26 Maret 2011, 1:52WIB

Embun


aku lahir dari dingin dan cemas malam
meringkuk tulus dipeluk helai rerumputan
aku memang setabah remang
sebab menantimu pada subuh yang mengoyak mimpi tiap pejam
  
dikedalamanku; bening, sebutir rindu paling hening
juga setetes rahasia yang baru kali ini aku mendambanya
serupa hasrat purba pemilik taman Babilonia

saat sulursulur cahaya matahari melesat
aku mulai menggeliat
menggelitiki hingga aku berkilauan
dan kutemukan tuhan membentang kesepian
  
maka pungut dan teteskan aku pada mekar luka di dadamu
agar luruh berguguran menjadi debu
sebelum tuhan mengecupku untuk baka, menguap
kuingin engkau tahu; tetesku adalah cinta yang tak'kan pernah lindap
  
(sajak di atas genteng rumah, dini hari, 01.07.2010)

Hati Yang Bermimpi



telah kucuri sehelai tuhan
digeriap rambut murungmu yang senantiasa mengigil merindu sunyi
lalu kusembunyikan pada lembar-lembar kitab hatiku
dimana berjuta kerlip doa menanti biji-biji mimpi tumbuh di taman kelam bernama; Dunia

ah, sayang
aku bukanlah pemuja gerhana yang sanggup menyesatkanmu dalam rimba hitam tembang
ketika kusentuh rahasia-mu
kau ketahui debar rahasia-ku

sebab, padamu ingin kukatakan; sejenak berteduhlah disini, tunjukku, ya, disini
agar kululuri bunga kemaraumu dengan gelisah airmata hujanku yang melelehi matahari

namun, sepertinya tak akan pernah kau ketuk pintu bisu itu
pintu yang dibaliknya aku bersimpuh perih
menahan denyar luka paling mawar menyayat-sayat sukma
karena kau masih ilusi yang membuai mata

kini, aku meringkuk di sudut dinding pilu
terus menatap mekar cahayamu
di arus waktu
yang tak lagi rela
menunggu-ku
menunggu-mu

Desember, 2007 -- Febuari 2008