Listen

My New Novel

Sekerlip Lilin


jikalau sekerlip lilinmu hendak meredup
jikalau engkau memintaku untuk meneteskan ribuan hujan di mata api ini
jikalau engkau hadir di sini, sesaplah sejenak kisah kesunyianku;
sebelum lilinmu benar-benar meredup, sebab begitulah desau kabarmu
namun, bukankah semua lilin akan habis terbakar?

maka untuk apa engkau mengkhawatirkan sesuatu yang sudah tercakar
pada kitab abu-abu yang buat kita hanya bertanya-tanya dan akhirnya duduk diam membisu

tenang, kubiarkan engkau mendengar dendang nyanyian miris hujan
dan engkau akan melihat, betapa dikedalamanku basah, benar-benar basah, hingga aku sesaat tidak ingin merekah
menatap matahari yang berharap aku tak perlu mengkerut pada suatu kisah yang terkadang datang menjajah

aku seliar api
engkau selembut angin
apa perlu kita bertanya pada embun pagi yang cukup untuk menuntaskan dahaga kita
bahwa tarian kita berbeda

mari menari sajalah
berkerejap sejati
cukup untuk belajar menaklukkan mengapa kita berjalan berputar untuk berada di puncak diri

sampai suatu saat, di sanalah
kita memahami setiap lilin meredup
bukan untuk membuat kita surut
namun untuk membuat kita larut
dalam dongeng sejati yang senantiasa kita hirup

12 April 2009

Catatan 10 Juli 2012


Pada 09 Juli 2012 Pukul 23.45 saya dan Adik saya menyanyikan lagu yang liriknya berasal dari Sajak Indah Darmastuti, saya menyanyi penuh penghayatan meski suara saya serak, badan lelah, ditengah konflik dengan banyak orang, pikiran glambrang kemana-mana dan sedang ditengah perang deadline yang tak kunjung rampung saya kerjakan.

Di akhir sajak yang saya senandungkan, saya menemukan kata-kata indah, kata-kata yang menusuk saya, hingga terkapar tidak berdaya dalam kehidupan ini.

Kata-kata itu; “Di sana, di hari tua, ketika kita masih mencicip waktu sebagai manusia.” 

Saya jadi merenungkan kata-kata itu, sebentar lagi Amunisi Hidup saya habis satu, dan saya tidak pernah tahu berapa lama lagi saya di Muka Bumi ini. Apakah Hidup saya akan mendapatkan tiket hingga saya tua kelak, atau saya akan mati telak saat ini juga saat menulis catatan ini. Saya tidak pernah tahu.

Pukul 00.00 saya mengambil lilin dan menyalakannya, lalu saya merekam kata-kata saya. Kata-kata saat saya kelak terjatuh atau tidak fokus saya akan memutar video wajah saya dengan lilin. Bagi saya Lilin adalah simbol umur kita, umur yang kelak akan berakhir, tua adalah meredup, lalu mati, hanya meninggalkan jasad, adalah asap yang meliuk-liuk di udara lalu henyap, menuju keabadian. Dan kita tidak akan pernah kembali ke Bumi ini, bertemu dengan orang-orang yang kita cintai dan orang-orang yang kita kasihi. Teman, Sahabat, Keluarga. 

Hingga sekarang belum ada yang kembali dari kematian, belum ada yang bilang “Saya sudah bertemu Tuhan secara langsung dihadapan saya,” belum hal itu masih menjadi misteri besar. Meski ilmuwan dari Swedia dan ilmuwan Indonesia yang tanggal 9 Juli 2012 berhasil menemukan Partikel Tuhan. Atom Dasar Penciptaan Manusia, tetap saja, kematian tidak akan mengembalikan kita pada hal yang semula. Misteri Tuhan terlalu Koan. Dan saya masih terus memburu dengan cara saya.

Agama-Agama Bumi, mengenal Reinkarnasi/Samsara, namun saya sedih karena; Saat kita tiada, lalu Reinkarnasi, jasad kita akan berbeda dari kita yang dulu, dan biasanya Reinkarnasi hanya orang-orang yang mau menelusuri (saya percaya sekali hal ini) yang membawa ingatan masa lalunya. Siapa dia di masa lalu, hingga ia lahir menjadi sekarang ini. Itu disebut Hukum Karma di Hindhu, Hukum Sebab-Akibat.

Selama setengah jam saya mengevaluasi diri saya setahun yang lalu. Niko di 2011.

Saya ingat dimana saya berada saat itu; saat itu saya sedang shooting di sebuah warnet di solo, bersama teman saya Natalie Spence (dia mengajak saya ikut bagian dari Project Filmnya Anjing Hutan) meski hari itu shooting berjalan sangat kacau dan saya tidak kuat menahan ngantuk, saya tertidur di kursi depan rumah orang, tepat dipinggir jalan! Yang paling mengejutkan adalah, Natalie ingin membatalkan shooting ini dan mengajak saya pergi ke Thailand atau Singapore, dan (gebleknya gue, ditambah sok wise) menolak tawaran itu, karena Budget yang sudah membengkak di hari kedua shooting dan sia-sia rasanya ketika menghancurkan Impian seorang teman yang ingin sekali memiliki sebuah film. 

Saya bilang padanya untuk menahan emosi dan bersabar. Sungguh saya type orang yang menjujung tinggi mewujudkan impian. Karena sebelum shooting berlangsung, saya dan Natalie ingin sekali sampai Hollywood dengan film kami. Muluk saya tahu setidaknya saya mencoba mengejar impian saya, dan memercayainya. Dan kalau melihat sekarang, tidak mungkin Film Anjing Hutan ikut mendaftar di Cannes Independent Film Festival, meski gagal, tidak menang, tidak ditayangkan, setidaknya sudah ikut. Itu yang membanggakan saya. Dengan kekuatan Percaya dan banyak kerja keras, saya dan Natalie akan mencapai impian Film kita bisa diputar di Festival. kalau nggak kesampaian, udah berusaha dulu. 

Dalam hidup saya, banyak orang yang datang dan pergi. AAda yang sebentar, ada yang lama, ada yang mebekas dihati. Orang-orang yang mampir di tubuh saya. Terima kasih pernah intim bersama saya.
 

Yang paling mengejutkan saya, lahirnya Novellete saya. Sudah sangat lama saya tidak menulis sebuah Novelette. Atas dorongan dan tantangan dari Mbak Sanie B.Kuncoro dan Mbak Indah Darmastuti, sedulur yang begitu saya hormati, intelektualitas, kreativitas dan spiritualitasnya. Kalian bintang-bintang yang berkilauan di langitku.

Yang paling menyenangkan di sebuah bulan November, Pasar Jajan Tradsional, kami mengadakannya lagi. Tin-Thir Community, yang saya gagas bersama Mas Endro, Jp dan Edy, sedulur yang sangat saya kagumi. Mereka benar-benar orang murni. Hati saya menampung keindahan mereka. Mereka memiliki kualitas yang tidak saya punya, dan lagi mereka pemilik hati emas. Jangan pernah berubah, Sedulurku. Kalian orang hebat, melangkahlah terus tanpa kenal lelah, tanpa perlu menjadi terkenal, tanpa perlu diketahui banyak orang, pada intinya, Hidup ini tentang Jati diri, sejatining Urip yang kita jalani. Detail dan Pernak-pernik Artifisial tidak dibawa mati, bukan. Bahkan selebritis dunia, mati pun tidak membawa apa-apa. 

Ada satu evaluasi lagi, pertemanan saya di Komunitas Penulis; Rumah Pena. Di dalamnya saya pernah berjalan tertatih-tatih bersama. Saya percaya kelak Founder-nya akan meraih sukses sesuai bayangannya. Mereka pasti mau terus berusaha dan murni, membebaskan, tanpa perlu lagi mencibirkan bibir. Tanpa perlu memandang apapun agama dan background orang-orang yang mereka ajari menulis. Dan saya percaya mereka mau berteman dengan orang-orang dari komunitas musuh yang Founder-nya benci, atau komunitas lain atau malah Setan seperti saya, begitulah yang mereka katakan.

Saya percaya hati mereka kelak akan terbuka untuk segala kemungkinan, karena pada akhirnya Hidup adalah pembelajaran tiada akhir. Selamat menikmati Hidup teman-teman Di Rumah Pena, saya hengkang karena saya memilih jalan saya kembali. Jalan Sunyi, jalan yang tidak pernah orang lewati. Saya tidak peduli pada pandangan orang yang berpikir saya adalah perusak dan Setan atau Iblisnya, karena telah menghantam dan menjatuhkan Founder dari Rumah Pena. FUCK YOU ALL!!! 


Misteri ini tidak akan terbuka, tapi saya percaya kebenaran yang mereka anggap relatif (karena mereka takut jujur dan terbuka) Biar saja jadi misteri Tuhan. Buat saya orang cerdas adalah orang yang melihat kebenaran dari dua-sisi. Orang yang berpikir terlepas dari inside the box, but out of the box.

Tapi pada intinya, ini semua tentang Perkembangan. Konsep hidup saya air, selalu mengikuti wadah yang menampung. Dan kini saya adalah air yang mengalir, yang menampung saya adalah kepercayaan saya pada diri saya sendiri. 

Semua orang harus berkembang, dan belajar menikmati kepahitan Hidup, bukan? Jika kita bisa menguasai kebahagiaan dan kesedihan kita, itu adalah orang yang menemukan kunci Hidup. Saya yakin Hidup kita akan indah menurut versi masing-masing. Jadi tak perlu iri, saya pun dari awal berkata, jika semua teman-teman Rumah Pena dan Foundernya sukses, bahkan bisa memenangkan Juara 1 di Sayembara Novel Dewan Jakarta/Hadiah Terbesar Sastra; Nobel. Saya tidak iri, hal itu sudah takdir. Bagian dari Rancangan Besar Tuhan. Indahlah, karena keindahan akan terlihat karena berbeda. 

Satu hal saja yang membuat saya Iri, pada orang-orang yang pemikirannya lebih maju dari saya, lebih spiritual dari saya, lebih cerdas dari saya, lebih authentic dari saya, lebih universal dari saya. cuma hal itu yang akan membuat saya iri setengah mati, karena ingin Hidup saya berisi makna-makna indah.

Kalau kaya, borju, punya uang berlebih, atau lebih maju secara teknologi artifisial manusia (kayak punya I-Phone atau Komputer Paling Canggih) saya mah nggak iri. Itu cuma alat, dan saya mengendalikan alat itu, bukan alat yang mengendalikan saya.

Bagi saya; Segala sesuatu yang kita punyai adalah pinjaman, termasuk Hidup kita, yang dalam lingkaran Kehidupan, harus kita kembalikan kepada Sumbernya. Segala hal di muka Bumi ini bersifat sementara saja; milik kita hanyalah untuk dimiliki dan digenggam sementara waktu saja. Lalu kelak akan lenyap, lindap....  

Untuk seseorang yang saya buat jantungnya copot, karena sikap bodoh saya, adalah Mas Dede Ferdinand, karena skenario yang saya kerjakan selalu lelet, dan selalu telat, apalagi menggampangkan keadaan. Bermilyar maaf atas sikap itu. Padahal tidak demikian saya ingin berlaku. Ingin benar-benar berkembang, tapi selalu alasan psikologis dan eksternal luar yang kadang menjadi pengganggu hebat. Anggaplah saya Skizofrenia, karena telat membuat skenario. Tapi skenario yang keluar dari pikiran dan hati saya, saya akan menjaga kualitasnya. Saya masih (harus) banyak proses hebat dari orang-orang hebat seperti Mas Ferdinand. Maaf kan saya yang selalu membuatmu susah, saya memang harus berubah. Sekali lagi membungkukkan hati padamu.

Hiburan yang menyenangkan ketika para sahabat mampir meski saya suguhkan satu pot air oksigen, hahahaha Thanks for Aniz, Andre, Anissa yang datang malam-malam untuk memberikan saya semangat. Kadonya keren! Dan perbincangan tentang Tuhan yang sangat luar biasa. Untuk Riandi Ivan Fadila, pengirim sms terakhir di detik terakhir 10 Juli 2012. Thank you so much, universe will give all of you the greatest adventure of Life. Dan satu bonus sabun colek, hadiah bisa di ambil di rumah gue! hahahaha

Untuk Mas Wahyu Dwi Paryanto, Maaf belum kusempatkan hadir lagi ke Djagalan. Aku memang sangat merepotkan dan membuat susah saja. Aku masih ingat ada hal yang belum tuntas aku selesaikan. Maafkan, kelak (yang sedang saya rancang) akan saya hadirkan eksistensi saya di sana. 

Evaluasi setengah jam, dan ditulis di detik terakhir 10 July 2012. Akhirnya tanggal berganti menjadi 11 July 2012. Waktu yang diciptakan manusia terus bergulir dan berputar. Tetapi waktu ilusif adalah keabadian. Dan Pada akhirnya, Pertarungan sebenarnya adalah menghadapi hari esok, tempat kita masih bergelut akan masalah mendasar manusia; Bertahan Hidup dengan Bekerja dan Berkarya. Saya memiliki banyak rencana dan target, mudah-mudahan di tahun ini hingga nanti July 2013 bisa tercapai. 

Catatan ini akan menjadi cermin buat saya, untuk menengok kembali ke belakang dan tidak lupa untuk terus merendah seperti padi. Dan akhirnya, pada raga saya yang menjadi kendaraan jiwa, roh dan inti tuhan. Selamat merayakan Hidup. Mari kita raih Hidup Sejati kita, sehat selalu agar masih punya banyak waktu untuk membuat Bumi dan Kehidupan lebih baik. Untuk apa? Saya tidak tahu. Akan saya temukan dalam proses menggelutinya.

Izinkan saya tenggelam dalam cinta, kedamaian, keheningan dan Namaste.

....Aum Shanti, Shanti, Shanti Aum....


Bukan Siswi Biasa

Originally ide cerita ini milik Producer saya Mas Dede Ferdinand, beliau memberikan kesempatan pada saya untuk menulis skenarionya.

Trailer FTV Bukan Siswi Biasa

 
Dan dengan bangga Tanggal 30 Mei 2012, pukul 17:30 WIB, Tayang di SCTV.
Semoga Re-Run lagi, agar bisa dinikmati semua pecinta FTV.

Miss Samson In Love


Ini adalah FTV-ku yang paling keren. Menurutku loh yah. Sebab menulis FTV ini tanpa beban sekali. Isinya FUN.
 
Dan ini FTV Permainan (menurut bahasaku, FTV yang isinya konyol dan tokokhnya memiliki kekuatan, bukan manusia dalam realitas nyata) Dialognya konyol dan it's Faharani Empel playing my Dora Character! Geezzz... i'm melting hahahaha.

Tayang pada Tanggal 02 Mei 2011, Pukul 23.00 WIB di RCTI.



Untuk melihat FTV Miss Samson In Love, Klik => di sini

14 Hari Anak Band Atau Pak Guru 2


Sequel FTV 14 Hari Anak Band Atau Pak Guru 2
Tayang 28 November 2011 di RCTI

Jodoh Lari Daku Kejar

 
Untuk melihat cuplikan videonya, klik di sini

Prometheus


Sudah nonton Film Prometheus? Kalau ada waktu nontonlah. Tapi ingat, Film ini hanya cocok untuk mereka yang berjantung kuat. Saya sarankan bagi yang tidak suka dikejutkan dengan sound efek yang JDAR! JDER! Dan visual yang memperlihatkan bedah perut dengan tangan robot untuk mengambil Alien di dalam perut. Jangan nonton, karena film ini mengandung unsur kejutan yang berkali-kali dan membuat anda sesak napas melihat visual yang begitu menyakitkan.

Bagi saya Prometheus adalah film terkeren, apalagi setelah membaca Novel SUPERNOVA PARTIKEL - Dewi Dee Lestari. Seolah Film ini hampir related, dengan pencarian dan pertanyaan Zarah akan dongeng Firas dalam buku jurnalnya tentang asal usul mula Manusia. Baiklah saya siap membahas panjang di sini.

Pernah mendengar nama Prometheus? Kalau saya pribadi nama Prometheus amat familiar dari buku Mitologi Yunani yang dulu pernah saya bahas dengan teman saya. 

****(X)****

Pada awal Penciptaan Dunia; dikisahkan bahwa terjadi peperangan antara para Titan dan para Olympians (Zeus dan saudara-saudaranya) yang dikenal dengan “Titanomachy” atau “War of The Titans”, seluruh Titan ikut dalam peperangan ini, akan tetapi ada seorang Titan yang memiliki kemampuan untuk melihat masa depan. Ia adalah Prometheus. Ia telah mengetahui akhir dari peperangan tersebut, dan kemenangan itu adalah milik Zeus. Maka dari itu, Ia mengajak saudaranya, Epimetheus, untuk bergabung dengan Kubu Zeus.

Prometheus adalah salah satu Titan yang selamat dari Titanomachy karena bergabung dengan kubu Zeus. Namanya berarti "Forethought" atau berarti "Dipikirkan Sebelumnya". Hal ini melambangkan “Bakat” yang ia miliki, Yakni kemampuan untuk melihat masa depan. Setelah Titanomachy berakhir, Zeus dan para Olympians menguasai Dunia. Namun pada saat itu Dunia masih kosong Akhirnya para dewa memutuskan untuk mulai menciptakan makhluk-makhluk untuk tinggal dan mengisi Dunia ini. Kemudian Tugas ini diserahkan kepada Prometheus dan Epimetheus. Para Dewa menugaskan mereka untuk menciptakan makhluk-makhluk dan Zeus memberikan berbagai macam berkah kepada Prometheus untuk nantinya diberikan kepada makhluk-makhluk yang ia ciptakan.

Dengan senang hati mulailah tugas itu dikerjakan. Pertama Ia menciptakan banyak hewan dari tanah liat, ketika ia menciptakan burung, ia memberikannya berkah untuk bisa terbang, ketika Ia menciptakan ikan, ia memberikannya kemampuan untuk berenang, banyak berkah lainnya diberikan pada masing-masing makhluk, seperti kecepatan, bulu, kekuatan, pendengaran yang kuat, penciuman, dan lainnya. Lalu kemudian Makhluk terakhir yang Ia ciptakan adalah, Manusia, Ia menciptakan manusia berdasarkan bentuk para dewa, Namun ketika ia hendak memberikan berkah, Ia ternyata sudah menghabiskannya untuk makhluk-makhluk sebelumnya, hingga tidak ada lagi berkah yang tersisa untuk diberikan pada manusia. Akhirnya, Prometheus pun memberikan manusia Keunggulan di atas semuanya, seni, adab, dan api. (Kuncinya di mitologi ini, Tuhannya Manusia adalah Prometheus)

****(X)****

Sebelumnya saya ingin membahas sutradaranya terlebih dahulu; Ridley Scott, beliaulah yang menyutradarai Film Alien yang dimainkan Sigourney Weaver yang juga pemain film The Years of Dangerously Living (FYI: Film tentang PKI dan pertentangan dengan Soekarno, yang sayangnya waktu itu Pemerintah Indonesia menolak pembuatan Filmnya di Indonesia. Maka para team film ini membuat Filmnya di Filipina menggunakan beberapa orang Indonesia untuk main di dalamnya.) 

Ridley Scott bisa dibilang jarang membuat film sci-fic, kebanyakan yang dia buat; Gladiator, Black Hawk Down, Matchstick Men, Kingdom of Heaven, dan American Gangster, dan masih banyak lagi. Tapi ketika beliau melahirkan Alien, 25 Mei 1979 saat itu adalah Film Sci-fic yang menyuguhkan visual yang angsty dan keren! Dan Ridley Scott selalu menampilkan prinsip ‘Less Is More’ tidak diperlihat langsung, tapi dimainkan samar dan sedikit, hingga membangun ketegangan semakin intens. Baru JDER! Mungkin Film Alien lebih dikenal sebagai film horor di ruang angkasa. Scott tidak menggunakan hantu-hantu yang ada di Bumi, tapi ia memindahkan teror-teror ke pesawat luar angkasa.         
   
Di Film Prometheus. Film ini ber-ending menggantung, seolah bakal ada sequelnya. Kalau begitu bolehlah dibilang sebuah prekuel, namun masih samar. Tapi boleh juga dibilang Film yang berdiri sendiri. Nggak ada masalah. Permasalahannya saya pribadi kesal—ANJRIT I NEED MORE!—ketika melihat ending film ini. Di film ini tentu saja ada benang merah dengan sejarah film Alien yang diciptakannya, tapi yang keren Scott sepertinya tidak sekadar menyuguhkan teror di luar angkasa. Ia ingin membagi gagasannya atau tepatnya, menyodorkan sebuah jawaban atas pertanyaan akbar umat manusia: Darimana kehidupan di Bumi ini berasal? Bagaimana manusia bisa ada di sini? Ada di Bumi? Siapa yang menciptakan manusia? Bagaimana Alam Semesta bermula? Tuhan Ada, dan siapakah Dia? 

Nah, Scott selalu tampak tegas dalam menyampaikan gagasannya itu, itu diperlihat di salah satu karakter yang menggunakan kalung salib di lehernya, yang penasaran dengan siapakah Tuhan itu. Nanti saya ulas lebih lanjut. 

Film dimulai dengan seorang Wanita bernama Elisabeth Shaw (Naomi Rappace yang main di A Girl With Dragoon Tatto, beda banget actingnya di sini) seorang arkeolog, yang memburu jejak-jejak arkeologis ribuan tahun lalu yang tersebar di pelosok Bumi. Bersama kekasihnya Charlie Holloway (gue lupa nama aktornya, googling bentar... ah! Logan Marshall-Green) akhirnya menemukan lagi pola yang sama: Bahwa manusia purba menyembah semacam rasi bintang. Dan mereka telah mengoleksi artefak dengan gambar yang sama. Seolah rasi bintang itu tempat yang Shaw duga menjadi tempat asal-usul kehidupan manusia di Bumi. Mereka, yang mendiami tempat itu, ditengarai sebagai “Creator/Pencipta” kita. Inget Supernova Partikel dengan planet bernama Sirius, atau EDIN. 

Tapi, Prometheus di film ini bukan nama Tuhan umat Manusia. Di film, Prometheus adalah nama Pesawat yang berangkat menuju rasi bintang itu. bersetting tahun 2098, membuat Pesawat Prometheus nampak setara canggihnya dengan Star Trek, namun lebih rumit. David (yang dimainkan Michael Fessbender, yang jadi Magneto di X-Man; First Class) membangunkan semua awak atas saran Meredith Vickers (Charlize Theron) pemilik kapal, dan mengumpulkan semua awak di suatu ruangan untuk membahas misi apa yang akan mereka tempuh. Saat Shaw dan Holloway menjelaskan dengan menggunakan kubik yang menampilkan semua visual kepingan artefak rasi bintang di udara di belakang mereka, dan Shaw mengatakan kita akan menuju pencipta kita. Semua awak tertawa, dan salah satunya mengejeknya. Di sini saya suka dialognya, ketika Shaw mengatakan bahwa “Saya lebih suka menyebut Dia; Insinyur.(Tuhan)” dan Dialog bahwa keyakinan apa yang membawa Shaw ke rasi bintang ini. Shaw hanya berkata, bahwa dia diundang. “Invited” dialog yang keren!

Yang saya agak kaget, planetnya mirip Saturnus ada cincinnya, dan berwarna putih gading. Agak butek, tapi bagus warnanya, yang ternyata lapisan awan-awan tebal menutupi permukaannya. Dan mendaratlah mereka ditempat yang dipercaya, bahwa Tuhan tidak pernah membuat garis lurus dalam menciptakan apapun. Disinilah semua teror yang menimpa awak pesawat di mulai. Seperti yang saya bilang, Scott begitu tegas dalam menyelipkan gagasannya. Tentang perdebatan yang sudah berlangsung sejak lama antara sains dan agama. Sebab di dalam Film, Mahluk tinggi raksasa berotot yang hampir mirip manusia, namun kulitnya putih gading dengan kedua mata sehitam oli motor. Ternyata memiliki kecocokan DNA yang sama dengan manusia! Akhirnya Shaw mengetahui Tuhan yang dimaksud adalah mahluk tinggi itu yang mereka temukan kepalanya dan Shaw teliti DNA-nya.

Hanya saja, Scott tidak mau terlihat gegabah; Dengan menggunakan David yang bertanya pada Shaw akan kalung Salib (seolah perlambang keyakinan kita pada agama dan Tuhan sebagai Pencipta Semesta), “Kau masih memakai ‘itu’ (kalung) Setelah bertemu pencipta-Mu?” Mungkin Scott tidak memilih interpretasi Anti-Tuhan, atau pandangan materialistik. Scott hanyalah seorang sineas yang membuat film fiksi ilmiah yang keren. Dan membuat kita ikut melambung dengan tesisnya.

Pada akhirnya, film ini membawa pada Pertanyaan Akbar. Sebenarnya Siapakah Tuhan itu sebenarnya? Sebab dalam film ini, meski meyakini bahwa Alien yang memiliki DNA yang sama dengan kita, tapi di film tidak ditunjukkan pembuatan manusia. Maksud saya peralatannya, dan sebagainya. Di film ini, hanya divisualisasikan misi Alien menumpukkan tabung yang berisi ****SPOILER**** dan tujuan Alien itu membawanya ke ****SPOILER****, ternyata misi itu dimulai 2000 tahun yang lalu, tapi ada bencana semua Alien mati mendadak oleh apa saya juga kurang tahu. 

Satu catatan saya, Di film ini tesisnya adalah bahwa Alien yang menciptakan kita (terserah anda mau percaya atau tidak, ini masalah interpretasi) 

Dan kalau film macam begini dianggap sesat dan bisa mempengaruhi keimanan seseorang. Saya bakal ngakak dan bilang anda seorang yang idiotnya nggak ketulungan. Percayalah teman, hingga kini, hanya Kematian jalan satu-satunya untuk menemukan segala jawaban yang kita pertanyakan di muka Bumi ini. Siapa Pencipta kita? 

Sehabis saya menonton ini saya sangat bersemangat, saya sedang meraih Tuhan, lewat banyak medium. Kalau di film, Alien adalah tuhannya Manusia. Naaah.. tuhannya Alien siapa? Karena Aliennya bisa mati juga kok di film ini. Saya gemes sendiri, tapi saya acungin banyak jempol untuk Scot dan Screenplay-nya yang mencoba meraih Tuhan. Hingga saya sadari, Tuhan belum bisa diraih, Tuhan bersembunyi dibalik Misteri, dibalik banyak Nama yang dipakai manusia-manusia beragama.

Sebelum saya banyak bicara, tonton saja film ini. nikmati setiap visual dan dialognya, Dialognya juga kunci menuju ending cerita. Perhatikan baik-baik akting David yang misterius. Jangan lengah, tahan kencing, saran saya kencinglah dulu setuntasnya dan jangan makan atau minum. Kelewat sedikit anda menyayangkan film ini, ibarat menyia-nyiakan waktu yang lewat dengan melakukan hal tidak berguna. 

So selamat menonton, nikmati pengalaman Prometheus. Kalau sudah nonton, mari meraih Tuhan lewat eksistensi kita.

NAMASTE